Nafas ibu saat menggunakan alat ini tarikannya dalam sekali seperti sulit bernafas. Mesin oksigen agak kencang sekali suara hembusan anginnya.
Menjelang pagi nafas ibu sudah agak ringan. Saya pikir itu keadaan yang membaik. Dokter jaga kemudian datang menghampiri ibu lalu menyentuh leher ibu (mengecek nadi), lalu mengecek tangan nadi di tangan ibu.
Setelah itu dokter memberi kode pada ners yang dari kemarin malam bertugas menjaga ibu saat saya aplus menjaga ibu dengan ayah dan ners pada pukul 07.14 WIB mengatakan pada saya agar saya mengabari pihak keluarga lalu ada ners yang datang membawa alat pacu jantung.
Tak lama kemudian saya mendengar kata "CODE BLUE" diumumkan di speaker rumah sakit RSUI.
Pernah saya mendengar kata "CODE BLUE" saat saya menemani ibu rawat inap di rumah sakit namun kali ini kata "CODE BLUE" itu ditujukan untuk ibu saya.
Terdengar oleh saya saat saya menyaksikan ibu ditangani oleh nakes:
CODE BLUE, CODE BLUE, lantai 10 ruang 1010
Ada dokter wanita menghampiri saya, mengatakan sebelumnya pihak keluarga mengizinkan untuk memberi usaha detak jantung dengan menekan dada. Dokter kembali mengkonfirmasi apakah tindakan tersebut diizinkan.
Saya dan ayah saya yang sudah sebelumnya berdiskusi dari awal setuju, kemudian mengizinkan dokter melakukan tindakan tersebut.
Kira-kira seingat saya ada dua dokter pria, satu dokter wanita dan lima ners (dua pria) yang menangani ibu saat kritis.
Setelah beberapa menit saya lupa, kemudian dokter menghampiri saya kembali dan mengatakan sudah dilakukan detak jantung dengan tangan dan sepertinya tulang dada patah. Apakah dari pihak keluarga akan dilakukan upaya lagi namun akibatnya nanti akan bertambah parah misalpun ibu sembuh kondisi dadanya bermasalah.
Saya meminta izin dokter wanita untuk segera menanyakan pada ayah via telepon. Dari percakapan telepon kami sepakat untuk tidak melanjutkan tindakan medis. Lalu saya memberitahukan keputusan keluarga pada dokter wanita tersebut.
Dokter wanita dibantu ners kemudian melakukan EKG dan dari hasil print out yang keluar tidak ada pergerakan jantung lalu dokter wanita tersebut mengatakan ibu berpulang pada pukul 07.40 sesuai jam print out EKG.
Memang ada pro dan kontra mengenai tindakan pacu jantung dengan menekan dada. Ada yang tidak mau keluarganya dilakukan demikian. Namun saya dan ayah sepakat itu adalah bentuk upaya kami terakhir untuk ibu setelah ibu berjuang berobat dari Agustus 2025 terdeteksi kejang karena tumor yang bersumber di paru lalu 18 Agustus 2026 ini ibu akhirnya berpulang.
Maafkan saya dan ayah ya bu yang telah memutuskan tindakan pacu jantung dengan menekan dada.
Ners yang menjaga ibu sejak semalam saya datang yang mengurus ibu (baik mengurus makan dan obat ibu lewat selang, mengganti pakaian, bahkan pup/pampers ibu), lalu mengikat kedua tangan ibu dengan kain putih, mengikat kain di wajah ibu, lalu menutup tubuh ibu dengan sprei yang digunakan ibu dengan menyisakan bagian wajah ibu yang terbuka.
Saya lalu dimintai tanda pengenal ibu oleh ners, lalu saya diminta menunggu petugas jenazah datang. Sembari menunggu petugas saya bebenah membereskan barang bawaan.
Ketika petugas jenazah datang saya membantu petugas mengangkat ibu ke bed besi berjalan untuk jenazah. Barang bawaan diletakkan di atas penutup bed besi lalu saya bersama petugas membawa jenazah ibu menuju Ruang Rumah Duka RSUI di lantai dasar di gedung sebelah yang aksesnya bisa tembus dari lift ruang rawat inap ibu.
5022 8620 8966
a.n. Budi Santoso
Klik untuk donasi via PayPal


Posting Komentar
Jika Anda ingin berpromosi dengan menyertakan link, lebih efektif promosi dengan artikel dibanding berpromosi di kolom komentar. Anda dapat mengendorse blog ini dengan memasang artikel di blog ini atau memasang banner iklan. Silahkan hubungi saya via email di halaman kontak untuk info harga endorse lebih lanjut. Terima kasih