Ini bukan gangguan jiwa yang gimana gitu ya teman-teman. Alhamdulillah ibu tidak kenapa-kenapa. Asal-usul mengapa ibu diperiksakan kesehatan jiwanya karena saya merasa ibu tidak memiliki semangat.
Awalnya saya menceritakan pada dokter saraf RSUI yaitu dr. Sophie saat ibu kontrol. Saya ceritakan ibu seperti tidak memiliki semangat untuk sembuh di saat ibu kesakitan (saat tulang belakangnya sakit) dan saat ibu sulit berdiri atau berjalan dengan ibu mengatakan dalam bahasa jawa "la piye eneh" yang dalam bahasa Indonesianya "ya gimana lagi".
![]() |
| Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) - Budioso.blogspot.com |
Saat ibu tidak mengalami sakit atau gejala lain, ibu juga enggan menggerakkan kaki atau tangan walau sudah disemangati agar melatih gerak tangan dan kaki agar otot tetap terpakai.
Kekhawatiran kami, ibu sudah renta, jika otot tidak digunakan maka otot akan makin susut. Jika otot susut artinya lemah dan bisa mengarah ke jompo. Itu yang kami atau saya jaga jangan sampai kejadian.
Saya sampaikan juga ke dokter Sophie kalimat yang saya katakan pada ibu, rumah sakit bagus. dokter bagus, obat bagus namun jika dalam diri pasien tidak ada semangat untuk sembuh maka sulit untuk mencapai hal tersebut.
Mendengar cerita saya tersebut, dr. Sophie lalu menyarankan agar ibu diperiksakan ke psikiatri lalu dokter membuat rujukan untuk ibu namun rujukan tersebut harus disetujui lebih dulu oleh dokter Gatut karena dokter Gatut adalah dokter utama BPJS ibu di RSUI sedangkan dokter Sophie dan lainnya adalah rujukan internal.
Beberapa hari sebelumnya rujukan internal dari dokter Sophie ke dokter kesehatan jiwa disetujui oleh dokter Gatut saat kontrol ke dokter Gatut pasca kemo ketiga (kemo dilakukan oleh dr. Gatut) maka hari ini ibu datang berobat ke poli atau klinik Psikiatri.
Kunjungan ke dokter psikiatri hari ini dijadwalkan pukul 09:40 - 10:00 WIB info dari RSUI via WhatsApp namun karena ada revisi jadwal praktek dokter psikiatri, maka jadwal berobat atau kunjungan berubah menjadi pukul 19:00 - 20:00 WIB.
Sesampainya di RSUI sekitar pukul 17:57 (pasien diharapkan datang satu jam lebih awal untuk registrasi atau pemberkasan) saya mencoba mendatangi mesin APM untuk proses pendaftaran.
Namun menurut petugas keamanan yang membantu registrasi di APM mengarahkan kami ke loket pendaftaran karena jadwal dokter ini adalah perubahan jadwal dan sudah tidak ada antrian kalau pun ada sangat sedikit. Kami pun membawa ibu ke loket pendaftaran.
Setelah selesai registrasi kami membawa ibu ke poli kesehatan jiwa di lantai dua dan setelah pendaftaran dan cek tensi kami diarahkan ke poli bedah karena dokter berada di ruangan poli bedah dan kami menyerahkan berkas dari ners poli sebelumnya ke ners di poli bedah.
Tak lama kemudian ibu dipanggil masuk ke ruang periksa oleh dr. Leonardo Alfonsius Paulus Lalenoh, M.Sc., Sp.K.J.
Awalnya kami masuk bertiga dengan ibu. Saya, istri dan ibu. Namun khawatir ibu tidak bisa bercerita banyak pada dokter, istri lalu kemudian saya keluar dari ruang periksa meninggalkan ibu bersama dokter.
Tak lama kemudian pemeriksaan selesai. Saya lalu menemui dokter terkait pemeriksaan ibu. Ibu malam itu mendapat satu resep obat.
Saya segera turun untuk mendapatkan nomor antrian farmasi karena sudah malam khawatir nanti akan pulang lebih malam. Setelah saya mendapat antrian farmasi saya kembali ke atas untuk membawa ibu turun karena ibu masih memakai kursi roda dan menurut ners untuk jadwal berkunjung lagi ke dr. Leonardo nanti dapat meminta rujukan dari dr. Gatut.
Setelah obat didapatkan kami pun pulang dan sampai di rumah sekitar pukul 21.50 WIB.
Klik untuk donasi via PayPal



Posting Komentar
Jika Anda ingin berpromosi dengan menyertakan link, lebih efektif promosi dengan artikel dibanding berpromosi di kolom komentar. Anda dapat mengendorse blog ini dengan memasang artikel di blog ini atau memasang banner iklan. Silahkan hubungi saya via email di halaman kontak untuk info harga endorse lebih lanjut. Terima kasih